Glitter Text Generator at TextSpace.net

Selasa, 27 November 2012

Keunikan Individu – Gordon Allport



Allport tidak setuju dengan teori psikoanalisis. Menurutnya manusia normal adalah makhluk yang rasional yang diatur terutama oleh tujuan kesadarannya yang berakar di masa kini dan masa yang akan datang, bukan di masa lalu. Prinsip dasar tingkah laku adalah terus menerus bergerak mengalir. Karena itu konsep utama teori kepribadiannya menyangkut motivasi, yang membuat orang bergerak. Arus aktivitas itu memiliki unsur yang tetap (trait) dan unsur yang berubah-ubah (functional autonomy: kecenderungan tingkah laku untuk berlanjut oleh alasan yang berbeda dengan alasan motivasi awalnya).
Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya. Definisi kepribadian ini memiliki 3 unsur pokok :
1.       Dynamic organization
2.       Psychophysical systems
3.       Determine
Allport juga mempertimbangkan untuk tidak memakai istilah karakter dan temperamen sebagai sinonim personaliti. Menurutnya, karakter bersebrangan dengan kepripadian yang menggambarkan deskripsi tingkah laku yang bebas dari penilaian (‘’karakter adalah kepribadian yang menilai, dan kepribadian adalah karakter yang tidak menilai’’). Temperamen  mengacu ke disposisi yang berkait erat dengan determinan biologi atau fisiologik.
Sifat (trait) sebagai stuktur neuropsikik membimbing orang untuk bertingkah laku yang konsisten lintas waktu dan tempat, merespon secara sama kelompok stimuli yang mirip. Sifat-sifat yang terpenting dari trait sebagai berikut :
1.       Nyata
2.       Membuat banyak stimuli berfungsi ekuivalen
3.       Mengubah/menentukan tingkah laku
4.       Empirik
5.       Kemandirian yang relatif
Allport membedakan antara trait umum (common trait/nomothethik trait) dengan trait individual (itu personal disposition/morphological traits/idiographic traits) :
1.       Trait umum adalah sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh banyak orang, dipakai untuk membandingkan orang dari latar budaya yang berbeda. Sekelompok orang lebih suka terbuka atau lebih sopan dibanding kelompok lain. Asumsi yang mendasari trait ini adalah persamaan evolusi dan pengaruh sosial.
2.       Trait individual merupakan manifestasi trait umum pada diri seseorang, sehinggga selalu unik bagi orang itu, konstruk neuropsikik yang membimbing, mengarahkan dan memotivasi tingkah laku penyesuaian yang khas. Sifat unik itu merupakan gambaran yang tepat dari struktur kepribadian seseorang.
Menurut Allport pentingnya membedakan dua jenis trait ini lebih kepada perbedaan pendapatan riset. Pendekatan nomotetik mempelajari manifestasi sifat yang sama pada orang yang berbeda, dan pendekatan idiografik mempelajari satu orang untuk menentukan apa yang disebut Allport :’’pola unik individual.”

Traits – Habit – Atitud
1.       Sifat (trait) adalah predisposisi untuk merespon secara sama kelompok stimuli yang mirip, penentu kecenderungan yang bersifat umum; dapat dipakai dalam lebih banyak situasi, dan memunculkan lebih banyak variasi respon. Trait merupakan kombinasi atau taraf umum dari dua habit atau lebih.
2.       Kebiasaan (habit) seperti trait tetapi sebagai penentu kecenderungan habit bersifat khusus, hanya dipakai untuk merespon satu situasi atau stimulus dan pengulangan dari situasi atau stimulus itu.
3.       Sikap (attitude) lebih umum dibanding habit tetapi kurang umum dibanding trait. Attitude terentang dari yang sangat spesifik sampai yang sangat umum, sedang trait selalu umum. Attitude berbeda dengan habit dan trait dalam hal sifatnya yang evaluatif.
4.       Tipe (type) adalah kategori nomotetik, dan konsep yang jauh lebih luas dibanding tiga konsep di atas. Sebagai suatu kategori, tipe akan mengelompokan manusia menjadi beberapa jenis atau model tingkah laku. Tipe merangkum ketiga konsep yang lain, menggambarkan kombinasi trait-habit-atitud yang secara teoritik dapat ditemui pada diri seseorang.
Perbandingan Pengertian Trait-Atitud-Habit-Tipe
Sifat yang dimiliki bersama Trait-Atitud-Habit

Fokus
Generalitas
Penilaian
Contoh
Predisposisi
Produk faktor genetik dan lingkungan
Mungkin mengawali/mengalahkan tingkahlaku unik
Trait
Aspek dari self
Sangat umum
Agak evaluatif
Sosiabilita
Atitud
Tersebar di lingkungan
Agak umum
Sangat evaluatif
Senang/tidak senang
Habit
Respon tertentu untuk stumulus tertentu
Kurang umum
Kurang evaluatif
Bersalaman
Tipe
Nomotetik
Sangat umum
Kurang evaluatif
Introversi

Trait dimiliki seseorang melalui kerjasama antara aspek-aspek keturunan dengan aspek lingkungan belajar. Ketika suatu trait sudah menjadi bagian dari kepribadian seseorang maka trait itu akan menjadi penentu model respon terhadap stimulus yang mirip. Trait membuat tingkahlaku orang menjadi konsisten, karena memakai pola sesuai dengan trait yang dimikinya.
Ada delapan aspek proprium yang kemudian berkembang bertahap mulai bayi sampai dewasa sebagai berikut :
·         Usia 0 – 3 tahun, berkembang tiga aspek proprium :
1.       Aspek diri fisik (sense of bodily self)
2.       Aspek identitas diri yang berkesinambungan (sense of continuing self identity)
3.       Aspek bangga diri ( self esteem atau pride)
·         Usia 4 – 6 tahun muncul dua aspek proprium :
4.       Aspek perluasan diri (extension of self)
5.       Aspek gambaran diri ( self image)
·         Usia 6 – 12 tahun :
6.       Aspek penguasaan rasional (self as rational coper)
·         Usia remaja
7.       Aspek berusaha memiliki (propriate striving)
·         Usia dewasa
8.       Diri sebagai si tahu (self as knower)
Motivasi
Dua ciri teori motivasi dari Allport adalah penolakannya terhadap masa lalu sebagai elemen penting motivasi dan pendapatnya yang kuat mengenai pentingnya proses kognitif seperti tujuan ( intention) dan rencana (planning) dari motivasi orang dewasa.
Otonomi fungsional memandang motif-motif orang dewasa beraneka ragam, mandiri sebagai sistem kontemporer, berkembang dari sitem antesenden tetapi secara fungsional tidak tergantung kepada sistem itu. Menurut Allport ada dua tingkat otonomi fungsional :
1.      Otonomi fungsional terbiasa ( perseverative functional autonomy)
2.       Otonomi fungsional propiate (propiate functional autonomy)

Tingkah laku yang bukan otonomi fungsional:

  1.        Tingkah laku yang muncul dari dorongan biologis
  2.        Refleks
  3.        Pealatan konstitusi
  4.        Habit
  5.        Tingkah laku yang tergantung kepada penguat primer
  6.        Motif yang terkait langsung dengan usaha mereduksi dorongn dasar
  7.        Tingkah laku non produktif
  8.        Sublimasi

Prinsip-prinsip otonomi propiate:
1.       Mengorganisir tinkat energi
2.       Penguasaan dan kompetensi
3.       Pola propiate

Motivasi sadar dan tak sadar
Allport menekankan pentingnya motivasi sadar, lebih dari pakar kepribadian lainnya. Individu yang sehat, kesadarannya mengontrol tingkahlakunya. Tingkahlaku yang normal itu fungsional otonom dan dimotivasi melalui proses sadar, terpisah dari motivasi tak sadar sekaligus memiliki pemicu tingkahlaku sendiri. Secara psikologis orang dewasa masak dan sehat sebagian besar tingkahlakunya dimotivasi oleh pikiran sadar, sehingga peran proses tak sadar dalam tingkahlaku sangat kecil.

Senin, 19 November 2012

PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN TRAIT



Psikologi lahir sebagai ilmu yang berusaha memahami manusia seutuhnya, yang hanya dapat dilakukan melalui pemahaman tentang kepribadian. Kepribadian adalah ranah kajian psikologi; pemahaman tingkahlaku – fikiran – perasaan – kegiatan manusia, memakai sistematik, metoda dan rasional displin ilmu yang lain. Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-belah dalam fungsi-fungsi. Pemahaman kepribadian adalah bahwa pemahaman itu sangat dipengaruhi paradigma yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori itu sendiri. Para ahli kepribadian ternyata meyakini paradigma yang berbeda-beda, yang mempengaruhi secara sistemik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia.


           Teori-teori kepribadian itu dapat dibedakan atau dikelompok-kelompokkan berdasarkan paradigma yang dipakai untuk mengembangkannya. Ada 4 paradigma yang paling banyak dipakai sebagai acuan;
1.       Paradigma Psikoanalisis
2.       Paradigma Traits
3.       Paradigma Kognitif
4.       Paradigma Behaviorisme

Di sini saya hanya akan menjelaskan tentang Paradigma Trait kawan-kawan. 

Paradigma Trait:  Tradisi Psikologi Fungsionalisme dan Psikologi Pengukuran

     Tiga paradigma non psikoanalitik, yakni Paradigma Traits, Paradigma Kognitif, dan Paradigma Behaviorisme secara historis berasal dari satu sumber, yakni Psikologi Eksperimen. Wilhelm Wundt (1832-1920) yang memelopori eksperimen di bidang Psikologi. Dia menolak definisi-definisi psikologi pendahulunya yang terlalu filsafati. Menurutnya untuk memahami tingkahlaku harus diketahui terlebih dahulu unsur-unsur terkecil yang mendukung terjadinya tingkahlaku itu di dalam diri manusia. Pendekatan semacam ini dikenal sebagai Psikologi Strukturalisme.  Namun pendekatan ini dipandang tidak pragmatis dan metoda intropeksi eksperimental terbukti kurang objektif. Kemudian  muncul pemikiran-pemikiran baru yakni Psikologi Fungsionalme, Psikologi Gestalt, dan Psikologi Behaviorisme.
     Tradisi Fungsionalisme mengurai tentang habit, ingatan, berfikir, motivasi, dan fungsi jiwa lainnya. Paradigma Trait membuat kategori-kategori, menempatkan orang dalam tipe-tipe tertentu dengan ; memilih unsur pembeda yang fungsional, dan mengabaikan unsur pembeda yang tidak pelu. Psikotes membantu mengidentifikasi perbedaan individu yang stabil dan bertahan dalam jangka waktu yang lama (stable and enduring).
        Paradigma Trait lebih banyak membahas peramalan-peramalan tingkahlaku, tidak seperti psikoanalisis yang lebih akrab dengan pengubahan tingkahlaku. Teori Trait dipelopori oleh William James, Murray, Abraham Maslow, R, Cattell, Eysenck, Allport, dan banyak pakar lainnya.   
  
        Sekarang waktunya saya memaparkan 6 teori trait, yaitu :
Semoga bermanfaat ya, selamat membaca /'(^_^)`\

Tipologi Biologis - Hans Eysenck



Eysenck berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkah laku dipelajari dari lingkungan. Menurutnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisasi tingkah laku; sektor kognitif (intelligence)¸sektor konatif (character), sektor afektif (temperament) dan sektor somantik (constitution).
Kepribadian sebagai organisasi tingkah laku oleh Eysenck dipandang memiliki empat tingkatan hirarkis, berturut-turut dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah: tipe – traits – habit – respon spesifik.
1.       Tipe : kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
2.       Trait : kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
3.       Kebiasaan tingkah laku atau berfikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/fikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
4.       Respon spesifik, tingkah laku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.

Tipe

Eysenck menemukan dan mengelaborasi tiga tipe - E, N, P – tanpa menyatakan secara eksplisit peluang untuk menemukan dimensi yang lain pada masa yang akan datang.

          I.            Ekstraversi
Ekstraversi adalah orang yang pandangannya objektif dan tidak pribadi, kebalikannya adalah introversi yaitu orang dengan pandangan subjektif dan individualis.

Ekstraversi
Introversi
Sosiabel
Tidak sosial
Lincah
Pendiam
Aktif
Pasif
Asertif
Ragu
Mancari sensasi
Banyak fikiran
Riang
Sedih
Dominan
Penurut
Bersemangat
Pesimis
Berani
Penakut

Penyebab utama perbedaannya adalah tingkat keterangsangan korteks (CAL=Cortical Arousal Level), kondisi fisiologis yang sebagian besar bersifat keturunan. CAL adalah gambaran bagaimana korteks mereaksi stimulasi indrawi. Orang yang ekstravers CALnya rendah, sedangkan intovers CALnya tinggi.

        II.            Neurotisisme
Seperti ekstravesi-introversi, neurotisisme-stabiliti mempunyai komponen hereditas yang kuat. Orang yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Mereka sering mengeluh dengan simptom fisik, seperti sakit kepala, sakit pinggang, permasalahan psikologi yang kabur seperti khawatir dan cemas.

Subyek
Dimensi
CAL
ANS
Simptom
(C)
Introver-Stabilita
Tinggi
Rendah
Normal introvers
(A)
Introver-Neurotik
Tinggi
Tinggi
Gangguan psikis tingkat pertama
(D)
Ekstravers-Stabilita
Rendah
Rendah
Normal ekstravers
(B)
Ekstravers-Neurotik
Rendah
Tinggi
Gangguan psikis tingkat kedua


      III.            Psikotisme
Seperti pada ekstraversi dan neurotisisme, psikotisme mempunyai unsur genetik yang besar.
Psikotisme tinggi
Psikotisme rendah
Agresif
Merawat/baik hati
Dingin
Hangat
Egosentrik
Penuh perhatian
Takpribadi
Akrab
Impulsif
Tenang
Antisosial
Sangat sosial
Takempatik
Empatik
Kreatif
Kooperatif
Keras hati
Sabar

Kecerdasan

Eysenck sesungguhnya ingin memasukkan kecerdasan sebagai dimensi keempat dari kepribadian. Seperti tiga dimensi yang lain, kecerdasan lebih banyak dipengaruhi oleh keturunan. Namun penelitian disekitar kecerdasan masih belum dapat mengelaborasi faktor kecerdasan itu dengan keseluruhan kepribadian manusia. Banyak kontroversi tentang hubungan antara kecerdasan dengan ras yang belum terselesaikan.

Sabtu, 17 November 2012

Holisme dan Humanisme - Abraham Maslow



                Teori Abraham Maslow dimasukkan ke dalam paradigma traits karena teori ini menekankan pentingnya peran kebutuhan dalam pembentukkan kepribadian. Dalam hal ini kedudukan Maslow menjadi unik. Pada mulanya dia adalah kelompok behavioris. Namun kemudian dia menyadari bahwa behaviorisme dan psikoanalisis yang mengembangkan teori berdasarkan penelitian binatang dan orang neurotik, tidak berhasil menangkap keajaiban nilai-nilai kemanusiaan. Akhirnya dia menjadi orang pertama yang memproklamirkan alliran humanistik.
Humanisme
Humanisme menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization). Humanisme yakin bahwa manusia memiliki potensi di dalam dirinya untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggungjawab untuk dirinya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah, dan tekanan sosial lainnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal berikut :
1.       Holisme
Holisme menegaskan bahwa organisme selalu bertingkahlaku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian/komponen yang berbeda.
2.        Menolak riset binatang
Psikologi humanistik menekankan perbedaan antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang. Riset binatang memandang manusia sebagai mesin dan mata ratai refleks-kondisioning, mengabaikan karakteristik manusia yang unik.
3.       Manusia pada dasarnya baik, bukan setan
Menurut Maslow, manusia memiliki struktur psikologik yang analog dengan struktur fisik: mereka memiliki “kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik.” Kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan itu secara esensial sesuatu yang baik, atau paling tidak sesuatu yang netral, itu bukan setan. Sifat setan yang jahat, destruksif dan kekerasan adalah hasil dari frustasi atau kegagalan memuaskan kebutuhan dasar, dan bukan bagian dari hereditas. Manusia mempunyai struktur yang potensial untuk berkembang positif. 
4.       Potensi kreatif
Kreativitas merupakan ciri universal manusia, sejak dilahirkan. Kreativitas adalah potensi semua orang, yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan khusus. Sayang, umumnya orang justru kehilangan kreativitas ini karena proses pembudayaan (enculturated).
5.       Menekankan kesatuan psikologik
Pendekatan humanistik mengarahkan pusat perhatiannya kepada manusia sehat, kreatif, dan mampu mengaktualisasikan diri. Maslow berpendapat psikopatologi umumnya hasil dari penolakan, frustasi, atau penyimpangan dari hakekat alami seseorang. Dalam pandangan ini, apa yang baik adalah semua yang memajukan aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak kemanusiaan sebagai hakekat alami. Karena itu psikoterapi adalah usaha mengembalikan orang ke jalur aktualisasi dirinya dan berkembang sepanjang lintasan yang diatur oleh alam di dalam dirinya.

Motivasi: Teori Hirarki Kebutuhan

        Maslow menyusun teori motivasi manusia, di mana variasi kebutuhan manusia di pandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan.

Jenjang Need
Deskripsi
Metaneed
Self actualization needs
Kebutuhan orang untuk menjadi yang seharusnya sesuai dengan potensinya. Kebutuhan kreatif, realisasi diri, pengembangan self.
Basicneed
Esteem needs
  1. Kebutuhan kekuatan, penguasaan, kompetensi, kepercayaan diri, kemandirian
  2.  Kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi penting, kehormatan dan apresiasi

Love needs/ Belongingness
Kebutuhan kasih sayang, keluarga, sejawat, pasangan, anak.
Kebutuhan menjadi bagian dari kelompok, masyarakat.
Safety needs
Kebutuhan keamanan, satabilitas, proteksi, struktur, hukum, keteraturan, batas, bebas dari takut dan cemas.
Physiological needs
Kebutuhan homeostatik: makan, minum, gula, garam, protein, serta kebutuhan istirahat dan seks

Hubungan antar kebutuhan

Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi.
Tidak ada orang yang basic need-nya terpuaskan 100%. Maslow memperkirakan rata-rata orang dapat terpuaskan kebutuhan:
·         Fisiologis sampai 85%
·         Keamanan 70%
·         Dicintai dan mencintai 50%
·         Self esteem 40%
·         Aktualisasi 10%
Tidak peduli seberapa tinggi jenjang yang sudah dilewatinya, kalau jenjang di bawah mengalami ketidakpuasan atau tingkat kepuasannya masih sangat kecil, dia akan kembali ke jenjang yang tak terpuaskan itu sampai memperoleh tingkat kepuasan yang dikehendaki.

Kebutuhan rendah vs kebutuhan tinggi

                Pada umumnya kebutuhan yang lebih rendah mempunyai kekuatan atau kecenderungan yang lebih besar untuk diprioritaskan. Jika orang tidak pernah kekurangan kebutuhan dasar mungkin mereka menjadi cenderung menganggap ringan kebutuhan itu, sehingga kebutuhan itu tidak menjadi motivator tingkahlakunya. Perbandingan antara kebutuhan-kebutuhan itu dipostulatkan oleh Maslow sebagai berikut:
1.       Kebutuhan meta muncul belakangan dalam evolusi perkembangan manusia
2.       Kebutuhan yang lebih tinggi muncul belakangan dalam perkembangan individu
3.       Kebutuhan yang semakin lebih tinggi, semakin kurang kaitannya dengan usaha mempertahankan kehidupan, perolehan kepuasannya bisa ditunda semakin lama
4.      Kebutuhan meta memberi sumbangan yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang, dalam bentuk kesehatan yang lebih baik, usia panjang, dan memperluas efisiensi biologis
5.       Kebutuhan yang lebih rendah hanya menghasilkan kepuasan biologis, sedangkan kebutuhan yang lebih tinggi memberi keuntungan biologis dan psikologis
6.       Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi melibatkan lebih banyak persyaratan dan lebih kompleks dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah
7.       Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi memerlukan kondisi eksternal – sosial, ekonomi, politik – yang lebih baik dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah

Maslow menemukan 17 rincian kebutuhan estetik dan kognitif (kebutuhan meta)
Metaneed
Karakter yang sama/berhubungan
Keanggunan (beauty)
Keindahan, keseimbangan bentuk, menarik perhatian
Bersemangat (aliveness)
Hidup, bergerak spontan, berfungsi penuh, berubah dalam aturan
Keunikan (uniqueness)
Keistimewaan, kekhasan, takada yang sama, kebaruan
Bermain-main (playfullness)
Gembira, riang, senang, menggelikan, humor
Kesederhanaan (simplicity)
Jujur, terbuka, menasar, tidak berlebihan, tidak rumit
Kebaikan (goodness)
Positif, bernilai, sesuai dengan yang diharapkan
Teratur (order)
Rapi, terencana, mengikuti aturan, seimbang
Kemandirian (self sufficiency)
Otonom, menentukan diri sendiri, tidak tergantung
Kemudahan (effortlessness)
Ringan, tanpa usaha, tanpa hambatan, bergaya
Kesempurnaan (perfection)
Mutlak, pantas, tidak berlebihan dan tidak kurang, optimal
Kelengkapan (completion)
Selesai, tamat, sampai akhir, puas terpenuhi, tanpa sisa
Berisi (richness)
Kompleks, rumit, penuh, berat, semua sama penting
Hukum (justice)
Tidak berat sebelah, menurut hukum, yang seharusnya
Penyatuan (dicotomy/transcendence)
Menerima perbedaan, perubahan, penggabungan
Keharusan (necessity)
Tak dapat ditolak, syarat sesuatu harus seperti itu
Kebulatan (wholeness)
Kesatuan, integrasi, kecenderungan menyatu, saling berhubungan
Kebenaran (truth)
Kenyataan, apa adanya, faktual, tidak berbohong

Kebutuhan neukrotik

                Kepuasan kebutuhan hirarkis (konatif, estetik, dan kognitif) menjadi dasar dari kesehatan fisik dan psikis seseorang, dan frustasi karena kegagalan memperoleh kepuasan akan menimbulkan gangguan, penyakit pada taraf tertentu. Maslow mengemukakan, manusia masih mempunyai kebutuhan yakni kebutuhan neurotik, yang bekerja terpisah dari kebutuhan lainnya. Frustasi karena kebutuhan hirarkis tidak terpenuhi, dalam keadaan yang ekstrim dan berjangka lama dapat berubah menjadi kebutuhan neukrotik.
                Kebutuhan neukrotik bersifat nonproduktif, mengembangkan gaya hidup yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak memiliki nilai dalam kaitannya dengan perjuangan mencapai aktualisasi diri, gaya hidup reaktif, berperan sebagai kompensasi dari kebutuhan dasar yang tidak tepenuhi.